Sosok ‘Isa al-Masih (yesus) dalam Renungan

Sosok ‘Isa al-Masih dalam Renungan

Ketika Allah berkata: “Hai ‘Isa ! Sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan akan mengangkat kamu kepadaKu serta akan membersihkan kamu dari mereka yang kafir…”
(Qs. ali-Imran 3:55)

Para mufassir berbeda pendapat mengenai ayat diatas.
Perbedaan tersebut berawal dari penterjemahan ayat “Tawaffa” (mewafatkanmu)
Makna dari “Tawaffa” adalah “Imatah” (mematikan), dan kematian itu telah terjadi sebelum ‘Isa diangkat.

Kata “Tawaffa” tidak menunjukkan waktu tertentu dan juga tidak menunjukkan bahwa kematian itu telah berlalu, namun Allah Swt mewafatkannya kapan saja. Yang jelas tidak ada dalil bahwa waktunya telah berlalu.

Mengenai bersambungnya kata “Mutawafika” dengan kata “Warofi’uka” tetap tidak menunjukkan satu hubungan yang sifatnya berurutan. Para ahli bahasa berpendapat bahwa kata sambung /wau/ itu tidak memberi faedah urutan waktu dan tidak pula Jama’ (mengumpulkan) akan tetapi memberi faedah Tasyrik (keikutsertaan).

Hal ini bisa kita lihat dalam firman Allah yang menyatakan penciptaan langit dan bumi, terdapat beberapa ayat yang menyebutkan penciptaan bumi lebih dahulu seperti dalam Surah Al Baqarah 29 dan surah Thaha 4. Akan tetapi terdapat lebih banyak ayat2 dimana langit-langit disebutkan sebelum bumi (Surah Al A’raaf 54, Surah Yunus 3, Surah Hud 7, Surah Al Furqaan 59, Surah As-sajadah 4, Surah Qaf 38, Surah Al Hadied 4, Surah An-Naazi’aat 27 dan Surah As Syams 5 s/d 10).

Jika kita tinggalkan surah An-Naazi’aat, tak ada suatu paragrafpun dalam Al Quran yang menunjukkan urutan penciptaan secara formal.

Ditinjau secara langsung kedalam bahasa arab yang terdapat hanya huruf /Wa/ yang artinya “dan” serta fungsinya menghubungkan dua kalimat. Terdapat juga kata “tsumma” yang berarti “disamping itu” atau “kemudian dari pada itu”. Maka kata tersebut dapat mengandung arti urut-urutan. Yaitu urutan kejadian atau urutan dalam pemikiran manusia tentang kejadian yang dihadapi. Tetapi kata tersebut dapat juga berarti menyebutkan beberapa kejadian-kejadian tetapi tidak memerlukan arti urutan-urutan.

Bagaimanapun periode penciptaan langit-langit dapat terjadi bersama dengan dua periode penciptaan bumi.
Didalam Al Quran, hanya terdapat satu paragraf yang menyebutkan urutan antara kejadian-kejadian penciptaan secara jelas, yaitu antara ayat 27 s/d ayat 33 Surah An-Naazi’aat.

“Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit itu ? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap, dan menjadikan siangnya terang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan darinya air, dan tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.”
(Qs. 79:27-33)

Perincian nikmat-nikmat dunia yang Allah berikan kepada manusia, yang diterangkan dalam bahasa yang cocok bagi petani atau pengembara (nomad) didahului dengan ajakan untuk memikirkan tentang penciptaan alam. Akan tetapi pembicaraan tentang tahap Tuhan menggelar bumi dan menjadikannya cocok untuk tanaman, dilakukan pada waktu pergantian antara siang dan malam telah terlaksana.

Jelas disini bahwa ada dua hal yang dibicarakan: kelompok kejadian samawi dan kelompok kejadian-kejadian dibumi yang diterangkan dengan waktu. Menyebutkan hal-hal tersebut mengandung arti bahwa bumi harus sudah ada sebelum digelar dan bahwa bumi itu sudah ada ketika Tuhan membentuk langit.

Dapat kita simpulkan bahwa evolusi langit dan bumi terjadi pada waktu yang sama, dengan kait mengkait antara fenomena-fenomena. Oleh sebab itu tidak perlu pula kita memberi arti khusus mengenai disebutkannya kata bumi sebelum langit atau langit sebelum bumi dalam penciptaan alam. Tempat kata-kata tidak menunjukkan urutan penciptaan.

Bertolak dari sini, maka ayat yang berbunyi :

Izqolallahu ya’Isa Inni mutawaffika warofi’uka, Artinya adalah
“Ketika Allah berkata: “Wahai ‘Isa ! Sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan akan mengangkat kamu kepadaKu, bisa juga bermakna demikian :

Izqolallahu ya’Isa Inni rofi’uka illa wamutawaffika, yang artinya menjadi
Ketika Allah berkata: “Hai ‘Isa ! Sesungguhnya Akulah yang mengangkatmu kepadaKu dan yang mewafatkanmu.

Selain itu dari kalangan Islam Sunni juga ada pendapat yang mengatakan bahwa kata “Mutawafa” adalah mati dalam arti tidur untuk diangkat kelangit, sehingga ayat tersebut bermaknakan “Inni munimuka warofi’uka Illa” (Sesungguhnya Aku menidurkanmu dan mengangkatmu kepadaKu)

Hal ini juga berdasarkan dalil bahwa didalam AlQur’an juga terdapat pemutlakan kata wafat untuk makna tidur, seperti dalam firman Allah :

Wahualladzi yatawaffakum billayli waya’lamuma jarohtum binnahari
Dan Dialah yang memegang/menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari.
(Qs. 6:60)
Allah memegang jiwa-jiwa ketika matinya dan jiwa yang belum mati di waktu tidurnya; lalu ditahanNya jiwa yang telah ditetapkan kematiannya dan dilepaskanNya yang lain sampai satu masa yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.
(Qs. 39:42)

Rasulullah ketika bangun tidur mengucapkan:
Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah Dia Mematikan kami (artinya, membangunkan kami setelah menidurkan kami) dan hanya kepada Dia saja tempat kembali.
(Hr. Bukhari)

Didalam kitab dan sunnah dibenarkan memutlakkan kata wafat untuk tidur. Jika demikian bisa jadi diangkatnya Nabi Isa putra Maryam itu dalam keadaan tidur sebagaimana dikatakan oleh Al Hasan Basri.

Penafsiran lainnya lagi dari kalangan Sunni, datang dari Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Qatadah bahwa ia berkata: Ini termasuk masalah muqaddam dan muakhkhor atau mendahulukan kata yang datang belakangan dan mengakhirkan kata yang datang lebih dahulu.

Jadi firman Allah tentang wafatnya Isa itu bisa diartikan menjadi :

Rofi’uka wamutawaffika
Kami mengangkatmu dan mewafatkanmu

Dia mengangkatmu (kelangit) lalu menurunkanmu (kedunia) dan mematikanmu sebelum hari kiamat, agar kamu menjadi salah satu tanda hari kiamat tiba.

Itu adalah pendapat Al Farra’ dan Al Zujaj.
Jadi faedah menjadikan Isa putra Maryam sebagai tanda hari kiamat sebagai pemberitahuan bahwasanya diangkatnya Isa kelangit itu tidaklah menghalangi kematiannya.

Selanjutnya penafsiran lain, kata “Mutawwafa” adalah isim fail (nomina verbal) dari kata kerja “Tawaffahu”, sehingga dapat diartikan “Jika ia menggenggamnya dan menghimpunnya kepadanya”.

Ibnu Qutaibah menafsirkan dalam kitab Gharibil Qur’an bahwa menggenggamnya dari bumi tanpa harus mematikan. Imam Ibnu Jarir Ath Thabari berkata: Kita sudah ketahui bahwa jika Allah mematikannya, maka tidak mungkin ia mematikannya sekali lagi lalu mengumpulkannya menjadi dua mayat

Sehingga penafsiran ayat itu menjadi :

Wahai Isa, sesungguhnya Akulah yang menggenggammu dari bumi dan yang mengangkatmu kepadaKu serta yang mensucikanmu dari orang-orang kafir yang mengingkari kenabianmu.

Syaikh Muhammad Jamil Zainu, seorang ulama Mekkah dan merupakan staff pengajar di Daarul Hadis Al Khairyah Mekkah mengatakan bahwa semua penafsiran tersebut adalah shahih, namun ia sendiri lebih condong kepada penafsiran yang terakhir, yaitu Yang menggenggam diri Isa dalam keadaan hidup didunia, bukan dalam keadaan mati dan juga bukan dalam keadaan tidur.

Sementara ayat : Inni mutawaffika warofi’uka Illa merupakan penjelasan tentang cara wafatnya.

Satu ayat lain yang menjadi perdebatan seru para ulama didalam Islam dan mengundang pula ikut campurnya kaum-kaum diluar Islam didalam menafsirkannya adalah :

Wa Immin ahlil kitabi ‘ilal layu’minannabih; Qobla mauti wayau mal qiyamah yakunu ‘alaihim sahida
Dan tidak ada dari Ahli Kitab yang tidak beriman kepadanya sebelum matinya. Dan pada hari kiamat dia akan menjadi saksi terhadap mereka.
(QS. an-Nisaa’ 4:159)

Kata “Qobla Mauti” (sebelum matinya) pada ayat diatas, itu bisa kita terjemahkan juga sebelum kematian Nabi ‘Isa Almasih pada akhir jaman nanti.

Tentu akan timbul pertanyaan: kenapa demikian ?
Baiklah, bukankah pada pembahasan ayat 157 dan 158 dari surah an-Nisaa’, sudah dijelaskan bahwa Nabi ‘Isa tidaklah mati dibunuh dan tidak juga disalib oleh orang-orang Yahudi dan Romawi itu, melainkan diangkat kepada-Nya.

Sekarang, kemanakah ‘Isa al-Masih ini diangkat oleh Allah ?
Adakah beliau diangkat kelangit dan duduk bersanding dengan Allah seperti pemahaman umat Nasrani serta seperti kebanyakan pemahaman Islam ?
Atau pula diangkat derajatnya dan diperintahkan Allah kepada al-Masih itu mengembara untuk mencari suku-suku yang hilang dari Bani Israil ditempat lain sebagaimana pemahaman beberapa golongan didalam Islam ?

Dari beberapa Hadist yang Shahih, kita dapati satu pernyataan bahwa Nabi ‘Isa akan kembali turun pada saat dunia menjelang kiamat nanti, dikatakan bahwa pada saat itu beliau akan mematahkan palang salib, membunuh babi serta mengadakan perlawanan terhadap Dajjal yang mengaku-aku dirinya sebagai Tuhan.

Banyak sekali pendapat para ulama dan ahli tafsir mengemukakan pendapat mereka berkenaan dengan masalah ini, baik itu mereka yang mengatakan bahwa ‘Isa al-Masih akan turun kebumi secara nyata dari pengangkatannya kelangit pada peristiwa Golgotta hingga mereka yang menganggap bahwa peristiwa turunnya Isa Almasih didalam Hadist tersebut tidak terjadi secara kongkret alias kiasan saja.

Namun terlepas dari seluruh penafsiran dan pendapat manusia diatas, al-Qur’an secara jelas menceritakan bahwa Nabi ‘Isa al-Masih dan Maryam ibu kandungnya ini telah diselamatkan Allah kesatu tempat yang aman dan bagus, sebagaimana firman Allah berikut ini :

Waja’alna ‘ibna maryama wa’ummahu; ayataw wa awayna huma ila robwatin zati qororiwwama’in
Kami jadikan putra Maryam dan ibunya satu bukti yang nyata dan Kami melindungi keduanya ditempat tinggi yang rata dan bermata air.
(Qs. 23:50)

Tentunya kita tidak bisa berkutat didalam pemahaman lama yang mungkin saja bisa salah, akan tetapi demi objektivitas, mari sekarang kita coba untuk mengikuti dahulu pendapat dari sebagian kaum Islam yang menyatakan bahwa ‘Isa al-Masih masih hidup dilangit saat ini dengan kajian yang berdasar pada ilmu pengetahuan Modern.

Ada satu hal yang baik yang bisa kita simpulkan dari pendapat ini yang tidak menutup kemungkinan dalam kacamata apapun, bahwa Nabi ‘Isa Almasih beserta ibunya hingga hari ini masih ada dan hidup dengan perlindungan Allah disuatu tempat diluar bumi.

Memang Allah tidak pernah menjelaskan lebih lanjut dalam al-Qur’an dan juga Nabi Muhammad Saw tidak pernah bersabda apa, dimana dan bagaimana Allah Swt mengangkat Nabi ‘Isa al-Masih setelah proses penyaliban yang disamarkan itu, hingga tahu-tahu kita mendapati keterangan bahwa Allah melindungi Nabi Isa dan ibunya pada surah 23:50 disertai banyaknya Hadist Shahih yang menerangkan akan kedatangan beliau lagi untuk yang kedua kalinya.

Pada pembahasan mengenai Buraq sebagai kendaraan inter dimensi, kita sudah berbicara perihal kendaraan Buraq itu sendiri, Mi’raj Rasulullah Muhammad Saw bersama malaikat Jibril hingga pada masalah ruang dan waktu yang mereka tempuh dengan perbandingan waktu para malaikat untuk sampai pada Tuhan-Nya dengan waktu manusia bumi dan kecepatannya.

Untuk menjelaskan masalah kemungkinan ‘Isa al-Masih dan ibunya masih tetap ‘Exist’ disuatu tempat yang tinggi diluar bumi (-mungkin planet Muntaha sebagai planet terjauh dan tertinggi yang ada Jannah sebagai tempat tinggal yang subur dan berkecukupan ?) kita coba adakan pemahaman dengan postulat-postulat Einstein yang pada akhirnya melahirkan rumusannya yang legendaris :

E = MC2

Dimana :
E merupakan energi
M adalah massa
C adalah kecepatan cahaya (9 x 108 m/s)

Disini terlihat adanya hubungan antara dimensi energi (E) dengan dimensi massa (M).
Postulat diatas tidak merubah atau bertentangan dengan prinsip kesetimbangan massa/materi walaupun mengalami perubahan bentuk – jadi bukan hanya energi saja yang tetap setelah terjadi transformasi.

Pada pelajaran Fisika SMA ada bab-bab yang menjelaskan masalah metafisika antara lain tentang dimensi-dimensi yang dikenal manusia beserta tingkatannya. Tingkatan yang tinggi berkuasa atas tingkat yang lebih rendah dan memiliki semua unsur-unsur dimensi dibawahnya. Sebaliknya dimensi yang lebih rendah hanya mampu merasakan apa yang ada di dimensi yang lebih tinggi serta tunduk pada ‘aturan main’ yang diberlakukan oleh dimensi yang lebih tinggi tersebut.

Seorang ilmuwan bernama Al Bielek, dalam ‘MUFON CONFERENCE’ January 13, 1990 berkaitan dengan suatu proyek rahasia pemerintah USA yang diberi nama Philadelphia Experiment berpendapat :

…..We’re not living in a three dimensional universe. We’re living in a five dimensional universe. The fourth and fifth dimensions are TIME. The fourth time dimension of course has been well alluded to as outlined by Einstein and others. The fifth dimensional concept actaully goes back to 1931, to P.D. Aspinski and his book “Tertium Organum”, a new model of the universe, in English. And he spoke of the five dimensions of our reality. He named the fourth as time; he never really got around to naming the fifth. But von Neumann realized, as it is known today by some physicists, hat thefifth dimension is also time; it is a spinnor, a vector, rotating around the first primary vector which indicates the flow and direction of time. The flow is immaterial.

We say that we are moving forward in time, that’s because of our looking at it, and our reference. We don’t sense time but it does flow at a fairly stable rate. And this other vector running around it is of no concern to us… normally.

Terlepas dari benar tidaknya pendapat tersebut, kita cuma bisa berteori ria.
Sekarang kita kembali pada urutan tingkatan dari dimensi itu yaitu :

  1. Dimensi satu yaitu titik
  2. Dimensi dua yaitu bidang dan luas serta jarak/ukuran (kumpulan unsur titik)
  3. Dimensi tiga yaitu bentuk – dimana manusia berada (kumpulan unsur bidang, luas dan jarak/ukuran)
  4. Dimensi empat yaitu ruang dan waktu – manusia bisa merasakan namun tunduk pada aturan penempatan ruang dan peluruhan oleh waktu – dimensi energi – semestinya memiliki seluruh unsur dimensi dibawahnya, termasuk diantaranya memiliki jasad – yang mungkin karena tidak diperlukan bisa saja ditanggalkan sebagaimana kita melepas baju.

Misalnya manusia hanya bisa menempati ruang namun tidak berkuasa atas ruang (alam semesta) serta luruh oleh waktu. Sedang dimensi energi tidak terpengaruh waktu (kekal) namun manusia tidak dapat menjangkau dimensi energi karena terhalang oleh dimensi ruang dan waktu sehingga seolah-olah energi yang berubah bentuk mengalami proses ‘menghilang’ tertelan waktu. Seandainya manusia berada di atas dimensi ruang dan waktu niscaya ia akan dapat melihat wujud energi yang sesungguhnya.

Namun dimensi yang lebih rendah mampu bertransformasi ke dimensi yang lebih tinggi karena suatu sebab, daya upaya dan campur tangan dimensi yang lebih tinggi. Misalnya : titik dapat berubah menjadi bidang apabila dia berkumpul (daya upaya) dan bidang dapat menjadi bentuk apabila ada manusia yang membuatnya (campur tangan).

Sehingga bila manusia mau berupaya maka ia akan mampu memasuki dimensi yang lebih tinggi sebagaimana yang termaktub dalam al-Qur’an Surah ar-Rahmaan 55:33 atau kemungkinan lainnya adalah melibatkan campur tangan dari dimensi yang lebih tinggi baik oleh inisiatif manusia maupun inisiatif penghuni dimensi yang lebih tinggi sendiri yang dalam hal ini Allah Swt sebagaimana peristiwa Mi’raj Rasulullah Muhammad Saw dengan kendaraan Buraqnya dan mungkin pula pada kasus ‘Isa al-Masih dan ibunya yang diangkat oleh Allah lengkap dengan jasad mereka dan diberikan perlindungan.

Perlindungan Allah pada surah 23:50 ini sudah tentu merupakan perlindungan total dari segala hal yang dapat menimpa diri Isa dan ibunya.

Mari kita ulangi lagi ayat 23:50 tadi dengan lebih teliti :

Waja’alna ‘ibna maryama wa’ummahu; ayataw wa awayna huma ila robwatin zati qororiwwama’in
Kami jadikan putra Maryam dan ibunya satu bukti yang nyata dan Kami melindungi keduanya ditempat tinggi yang rata dan bermata air.
(Qs. 23:50)

Tidak mungkinkah yang dimaksud dengan tempat tinggi yang rata itu sebagai suatu dimensi tertinggi yaitu energi dimana semua urusan tempat (ruang – di bumi atau langit – alam semesta raya), jarak dan apalagi waktu tidaklah ada artinya alias datar. Sehingga biarpun Nabi Isa tetap hidup sampai menjelang kiamat tidak ada pengaruhnya terhadap beliau karena waktu hanya berpengaruh bagi kita di dimensi tiga ini sehingga jarak waktu satu jam saja terasa lama sedang mungkin bagi Rasulullah Muhammad Saw, Jibril dan Nabi Isa Almasih perjalanan waktu itu amatlah singkat !

Kita pernah membahas secara matematis perihal kecepatan waktu malaikat Jibril yang mengemban amanah wahyu dari Allah untuk diteruskan kepada hambaNya dibumi pada artikel Buraq sebagai kendaraan inter dimensi

Masalah kemudian Nabi ‘Isa al-Masih ‘diturunkan’ kembali ke dimensi manusia adalah ‘campur tangan’ yang sangat mudah bagi Allah yang tentu berada dalam tingkatan diatas semua dimensi ! Semudah manusia ‘campur tangan’ terhadap gambar bidang (dimensi dua) yang kita hapus menjadi titik (dimensi satu). Dan kita (manusia) tidak akan terpengaruh apapun yang terjadi dalam gambar bidang tersebut.

“Tetapi aku mengatakan ini yang benar kepadamu, bahwa berfaedahlah bagi kamu jikalau aku ini pergi, karena jikalau aku tidak pergi, tiadalah “Paraclete” itu akan datang kepadamu; tetapi jika aku pergi, aku akan memintakannya untukmu. Dan bilamana dia sudah datang, dia akan menerangkan kepada isi dunia ini mengenai dosa dan keadilan serta hukuman dari dosa, sebab mereka tidak mempercayaiku.”
(Yohanes 16:7-9)
“Dan tatkala ‘Isa putra Maryam berkata: hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah Rasul Allah kepada kamu, membenarkan Taurat yang turun sebelumku dan memberikan kabar gembira mengenai seorang Rasul sesudahku yang namanya Ahmad.” (QS. ash-Shaff 61:6)

Demi dzat yang jiwaku dalam genggaman kekuasaan-Nya, niscayalah sudah amat dekat sekali saat turunnya ‘Isa putera Maryam dikalangan engkau semua …”
(Hr. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Dalam keterangan-keterangan diatas bisa kita ambil satu kesimpulan bahwa baik ‘Isa al-Masih anak Maryam didalam berkata pada Johanes 16:7 dan alQur’an surah 61:6 maupun Rasulullah Saw sendiri pada hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim telah menggunakan perhitungan waktu luar bumi atau waktunya Allah Swt didalam menjelaskan kedatangan masing-masing.

Pada Johannes 16:7 serta paralel dengan QS. 61:6 Jesus alias ‘Isa al-Masih telah menjelaskan bahwa sang Paraclete alias Ahmad akan datang setelah ‘Isa al-Masih pergi.

Kita semua tahu bahwa sang Paraclte alias Ahmad itu sendiri baru tiba atau dilahirkan sekitar 6 abad setelah kepergian Isa Almasih, yaitu pada 12 Rabi’ul awal tahun gajah bertepatan dengan bulan Agustus 570 Masehi dikota Mekkah Almukarromah dari keturunan Nabi Ismail putra pertama Nabi Ibrahim as.

Sebegitu lama jarak mereka berdua tersebut, meskipun Isa berkata bahwa setelah kepergiannya akan dilahirkan sang Rasul, namun kenyataannya tidak terjadi begitu saja, dengan kata lain tidak terjadi dalam jangka pendek hitungan manusia, tetapi mempergunakan hitungan luar bumi atau hitungan perjalanan malaikat, dimana 1 harinya malaikat = 50 ribu tahun manusia (QS. 70:4) atau malah juga mempergunakan waktunya Allah, bahwa 1 hari Allah adalah 1000 tahun manusia (QS. 22:47)

Bertolak dari sini pulalah, tentunya nubuatan Nabi Saw akan turunnya kembali ‘Isa al-Masih untuk kedua kalinya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim belumlah terjadi dalam jangka pendek hitungan manusia, namun akan terjadi nanti, menjelang kiamat yang waktu pastinya hanyalah Allah Swt yang tahu.

Sebagian dari kaum Islam yang meyakini akan masih adanya kehidupan dari putera Maryam disalah satu planet diluar bumi ini juga mempergunakan dalil dari ayat al-Qur’an dibawah ini :

Dan sesungguhnya Ia itu /Isa/ merupakan satu tanda bagi kiamat /Sa’ah/. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu padanya ikutilah Aku. Ini satu jalan yang lurus.
(Qs. 43:61)

Surah 43:61 diatas bisa dan biasa pula diartikan orang dengan : Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. dst akan tetapi ada beberapa bantahan yang dikemukakan sebagian ulama Islam dengan tafsiran ini.

Dalam ayat aslinya dinyatakan :

Wa innahu la’ilmullisa’ati falatamtarunna biha wattabi’un; Haza shirothum mustaqim

Dia itu merupakan ilmu bagi Sa’ah /Innahu la’ilmullisa’ah/, sebagian ulama menterjemahkan kata “ilmu” disana dengan kata ‘Tanda‘ bukan dengan terjemahan “mempunyai pengetahuan sebagaimana tafsiran dari sebagian ulama Islam yang lain.

Alasan yang dikemukakan menurut mereka jelas sekali dinyatakan didalam alQur’an bahwa masalah Sa’ah /waktu kehancuran total yang ditentukan/, Yaumul Hasrah /hari penyesalan/, Yaumul Muhasabah /hari perhitungan/, Yaumul Wazn /hari pertimbangan/ dan sejumlah nama lain yang kesemuanya menunjukkan mengenai kiamat yang akan terjadi hanyalah Allah saja yang mengetahuinya, tidak ada satupun makhluk yang tahu, siapapun dia adanya, baik Isa Almasih, Muhammad Saw maupun Jibril sebagai kepala malaikat.

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Kapankah datangnya ?”. Katakanlah:”Hanya disisi Tuhankulah pengetahuan /ilmu/ tentangnya; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. ia /Kiamat/ itu amat dahsyat untuk langit dan bumi. Dia tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya ilmu /pengetahuan/ tentangnya ada di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
(Qs. 7:187)

Ulama-ulama Islam ini juga menekankan adalah akan sangat bertentangan sekali jika menafsirkan ayat 43:61 dengan mengatakan bahwa ‘Isa al-Masih mempunyai pengetahuan mengenai hari kiamat dengan ayat 7:187 diatas.

Selain itu, para ulama yang berpaham ini juga memiliki argumen lain dari dalam al-Qur’an :

Dan tidak ada dari Ahli Kitab yang tidak beriman kepadanya sebelum matinya.
Dan pada hari kiamat dia akan menjadi saksi terhadap mereka.
(Qs. 4:159)

Pada ayat diatas Allah sudah menggambarkan, bahwa tidak akan ada seorangpun dari Ahli kitab, yaitu orang-orang Kristen, Yahudi dan berbagai umat lainnya yang pernah didatangkan Rasul dan petunjuk-Nya /kitab/ kepada mereka oleh Allah akan berbalik mengimani kenabian ‘Isa al-Masih yang turun untuk kedua kalinya tetapi dengan misi universal sebagai pengikut ajaran Muhammad Saw dan meluruskan penyimpangan terhadap ajaran yang dulu dia bawa kepada umatnya, bangsa Yahudi menjelang kiamat kelak sebagai bukti dari janji Allah pada surah 9:33

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.
(Qs. 9:33)

Surah 4:159 diatas itu menurut ulama-ulama Islam ini belumlah terbukti, karena sebagaimana yang kita ketahui bahwa pada saat ‘mangkat’ atau kepergian Nabi ‘Isa putera Maryam, umatnya sebagai ahli kitab dari jaman Musa hingga pada Injil yang ia emban tidak semuanya mengimaninya bahkan dia sendiri nyaris terbunuh dan disalibkan jika saja tidak datang pertolongan Allah yang Maha Perkasa dan Bijaksana.

Hal ini sekaligus bisa membantah akan dakwah kenabian Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku-aku sebagai titisan Nabi Isa dan titisan semua Nabi termasuk Rasulullah Muhammad Saw, dengan melihat kenyataan, jangankan para ahli kitab akan berbalik menjadi beriman kepada Mirza Ghulam Ahmad sebelum kematiannya, bahkan setelah kematian Nabi palsu ini semakin banyak saja ahli kitab, padahal menurut ayat 4:159 itu sendiri bahwa sebelum kematian Nabi ‘Isa yang sebenarnya, semua ahli kitab akan beriman kepadanya yang juga merupakan refleksi dari Hadist Rasul yang mengatakan bahwa pada saat turunnya nanti, ‘Isa al-Masih akan menghancurkan palang salib.

Dan jika al-Masih ‘Isa putera Maryam memang masih hidup disalah satu planet diluar bumi dan akan turun kembali dalam bentuk dan jasad aslinya, sekarang timbul lagi pertanyaan bahwa berarti Muhammad bukan Nabi terakhir, lantas bagaimana dengan konsep Muhammad sebagai Khataman Nabiyyin ?

Jawabannya adalah :
Secara urutan, Muhammad Saw lah Nabi terakhir yang diangkat.
‘Isa al-Masih putera Maryam adalah Nabi sebelum Muhammad Saw, jadi “surat pengangkatannya” umurnya lebih tua dari Muhammad Saw. Pun pada saat beliau datang kembali, beliau tidak akan membawa ajaran-akidah baru. Sementara ‘khataman nabiyyin’ lebih mengacu kepada Nabi yang terakhir ‘dinobatkan’ dan Nabi paling mulia dari segala Nabi Allah.

Kita masih akan tetap melanjutkan pembahasan mengenai tersalibnya ‘Isa al-Masih putra Maryam ini pada artikel
Pengkhianatan Yudas dan Penyaliban ‘Isa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: