Pengkhianatan Yudas dan Penyaliban ‘Isa

Pengkhianatan Yudas dan Penyaliban ‘Isa

“Ye men of Israel, hear these words; Jesus of Nazareth, a man approved of Yahweh among you by miracles and wonders and signs, which Yahweh did by him in the midst of you, as ye yourselves also know”
(The Acts 2:22)

“Hai orang-orang Israil, dengarlah perkataan ini: Jesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan mukjizat-mukjizat dan kekuatan-kekuatan serta tanda-tanda yang dilakukan Allah dengan perantaraan dia ditengah-tengah kamu sebagaimana yang kamu ketahui.”
(Kisah Para Rasul 2:22)

Kisah penyaliban yang kontroversial telah membuat satu perdebatan yang seru, baik didalam kalangan Nasrani maupun didalam kalangan Islam sendiri. Banyak yang mencoba memberikan pentafsiran atas kejadian yang berlaku pada waktu itu yang dilandasi dengan dalil-dalil yang menurut mereka cukup akurat dan memperkuat statement mereka tersebut.

Pada bahasan yang lalu, kita telah membahas pendapat dari sebagian golongan Islam mengenai teori masih hidupnya ‘Isa dilangit yang kita coba refleksikan dengan pengetahuan modern terkini, yaitu dengan jalan menjadikan ‘Isa al-Masih dan ibunya sebagai manusia yang telah dipindahkan oleh Allah dari bumi kita ini menuju kebumi Allah lainnya didalam jangkauan angkasa raya.

Masih ingat anda tentang kajian kita mengenai kehidupan diplanet lain diluar bumi ?

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi.
Perintah /hukum-hukum/ Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu”.
(Qs. at-Tahriim 65:12)

Sebagaimana halnya dengan kehidupan yang berlaku dimuka bumi kita ini, tentunya kehidupan dibumi-bumi Allah yang lain itupun akan serupa dengan yang kita jumpai disini. Dan adalah sesuatu yang sangat masuk akal sekali apabila kita katakan bahwa ‘Isa al-Masih beserta ibunya masih tetap hidup disana.

Tidak ada yang perlu dibantah dalam teori ini.
Masalah udara dan makanan diplanet-planet atau bumi-bumi lain tersebut sudah kita bahas dalam pembahasan Kisah Adam maupun Makhluk Luar Angkasa yang lalu. Semuanya sama seperti kehidupan dibumi.

Dan masalah usia, kenapa pula kita mesti mengingkari akan kenyataan yang diberikan oleh al-Qur’an sendiri tentang hidupnya para Ashabul Kahfi selama 350 tahun ? atau juga tentang usia dari Nabi Nuh as yang 950 tahun ? atau pula kisah salah seorang hamba Allah yang tercatat pada al-Qur’an surah al-Baqarah 2:259 ?

Adalah terlalu dini untuk kita menyalahkan konsep-konsep dan teori masih hidupnya putera Maryam bersama ibunya disalah satu planet bumi yang lain diangkasa raya sana, karena baik itu al-Qur’an atau juga ilmu pengetahuan masih bisa menerima konsep tersebut dengan baik.

Dalam pembahasan lanjutan, kita akan mengedepankan satu pendapat lainnya yang beredar dikalangan Islam, bahwa Nabi ‘Isa al-Masih sudah wafat dan dimakamkan dibumi ini.

Kisah kekufuran Bani Israil sudah secara gamblang dipaparkan oleh al-Qur’an didalam banyak ayat-ayatnya, sejak dari mulai masa kenabian Musa as dan Harun hingga pada periode ‘Isa al-Masih dan Muhammad Saw bahkan hingga jaman-jaman yang akan datang.

Kisah penyaliban atas diri Nabi ‘Isa al-Masih putera Maryam telah dipercayai oleh semua orang disebabkan karena terjadinya pengkhianatan diantara para sahabatnya yang setia. Kisah pengkhianatan ini sebenarnya tidak hanya bisa kita peroleh dari dalam Bible yang diyakini oleh kaum Nasrani namun juga al-Qur’an sudah menggambarkan akan peristiwa tersebut.

Dimulai dari saat-saat akan diturunkannya Hidangan (al-Maidah) atas keinginan para sahabat Nabi ‘Isa al-Masih :

“Tatkala Hawariyin (sahabat-sahabat setia) berkata : Wahai ‘Isa putera Maryam! Apakah berkuasa Tuhanmu menurunkan kepada kami satu hidangan dari langit ?;
Maka ‘Isa menjawab : Takutlah kepada Allah jika memang kamu betul-betul orang-orang yang beriman.!”
Mereka berkata : Kami ingin agar kami makan darinya dan supaya kami yakin bahwa sesungguhnya engkau sudah berkata yang benar terhadap kami dan jadilah kami ini orang-orang yang menyaksikan.”
(Qs. al-Maidah 5:112-113)

Disini sebenarnya kita sudah melihat adanya bibit-bibit kekurang percayaan orang-orang yang berada disekitar ‘Isa al-Masih terhadap dirinya dan Allah, sama persis seperti yang sudah sering kita baca dan kita bahas mengenai perilaku murid-murid ‘Isa yang sering membangkang terhadapnya didalam Bible. Sekian lama mereka menjalani kehidupan bersama, menyebarkan dakwah dibawah bimbingan Nabi ‘Isa kepada masyarakat dan membuktikan sendiri mukjizat-mukjizat kenabian ‘Isa al-Masih, namun mereka masih tetap merasa kurang yakin.

Kita lihat dalam jawabannya, ‘Isa menegur kelakuan para sahabatnya ini yang seolah tidak beriman kepada Allah dan dirinya selaku Rasul; Ini bukan teguran ‘Isa yang pertama terhadap sikap para sahabatnya semacam ini, kita lihat didalam surah ali-Imran ayat 52 :

Ketika ‘Isa merasa akan kekufuran dari mereka, ia bertanya: Siapakah penolong-penolongku kejalan Allah ?; Maka para sahabatnya menjawab : Kami adalah pelayan-pelayan Allah, kami telah beriman kepada Allah dan lihatlah, bahwa sesungguhnya kami orang-orang yang muslimin.”
(Qs. ali Imran 3:52)

Atas jawaban para Hawariyin ini, Allah memberikan jawaban yang sangat jelas sekali bagi kita untuk menjadi bukti atas kebenaran ucapan mereka ini didalam ayat selanjutnya :

“Dan mereka membuat tipu daya, namun Allah (juga) membuat tipu daya; dan sesungguhnya Allah itu sepandai-pandainya menipudaya.”
(Qs. ali Imran 3:54)

Disini bisa kita pahami, bahwa ayat ini merupakan tanggapan Allah atas pernyataan Hawariyin yang mengaku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya yaitu ‘Isa al-Masih yang dikatakan pada ayat sebelumnya; Dan dari sini kita bisa menangkap satu fenomena bahwa diantara para sahabat tersebut tidak semuanya mereka ini benar-benar beriman sebagaimana yang diucapkan oleh mulutnya, sebab menurut Allah, mereka telah mengatur satu rencana yang jahat, membuat satu tipu daya yang ditujukan kepada Rasul-Nya namun rencana tersebut akan dikalahkan oleh Allah dengan tipu daya pula.

Ingatkah anda akan firman Allah dibawah ini ?

“Karena kesombongan dibumi dan merencanakan tipu daya yang jahat, padahal rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain kepada orang yang merencanakannya sendiri“.
(Qs. Faathir 35:43)

Dari ayat-ayat ini kita bisa mentafsirkan bahwa satu tipu daya yang jahat yang telah diatur oleh sebagian dari Hawariyin untuk ‘Isa akan dibalas oleh Allah dengan tipu daya-Nya pula dengan menjadikan orang yang merencanakan makar ini termakan oleh rencananya sendiri.

Dan dalam ayat lanjutan ali-Imran 55 , Allah meneruskan firman-Nya :

“Tatkala Allah berkata: Wahai ‘Isa! Sungguh Aku akan mengambilmu dan akan mengangkatmu kepadaKu, dan akan membersihkanmu dari mereka yang kafir, serta akan menjadikan orang-orang yang mengikutimu diatas mereka yang kafir hingga hari kiamat.”
(Qs. ali Imran 3:55)

Ayat ini merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya yang mengatakan bahwa Allah akan membalas tipu daya orang-orang yang jahat kepada Rasul-Nya. Dari sini kita juga bisa mengambil satu kesimpulan bahwa rencana jahat yang dimaksudkan terhadap diri Nabi ‘Isa tidak akan bisa terjadi terhadap sang Nabi akan tetapi Allah akan mengembalikan rencana jahat tersebut menimpa kepada orang itu sendiri dan Allah akan menyelamatkan Nabi-Nya tersebut dari rencana jahat itu dengan peristiwa pengangkatan dan membersihkan nama baiknya.

Kita baca ayat berikutnya :

“Maka adapun mereka yang kufur itu, Aku akan menyiksa mereka satu siksaan yang keras didunia dan akhirat; dan mereka tidak akan mendapatkan penolong-penolong.”
(Qs. ali Imran 3:56)

Ayat ini kita kembalikan dengan ayat yang juga menceritakan peringatan Allah terhadap kaum Hawariyin disaat penurunan Hidangan dari langit didalam surah al-Maaidah :

“Allah berkata : Sesungguhnya Aku akan menurunkannya untukmu, tetapi barang siapa dari antara kamu yang kufur sesudah itu, maka akan Aku azab dia dengan satu azab yang tidak pernah Aku perbuat terhadap seorangpun daripada makhluk-makhluk.”
(Qs. al-Maidah 5:115)

Diayat ini kita juga menemukan isyarat langsung dari Allah, bahwa akan ada yang kufur terhadap Allah dan Rasul-Nya diantara kaum Hawariyin tersebut setelah usainya Hidangan dari langit diturunkan, yaitu sesudah terjadinya jamuan makan malam ketuhanan menurut teologi Nasrani.

Kita ketahui dari Bible, bahwa dari 12 orang murid utama ‘Isa, ada seorang yang telah berkhianat dengan jalan menjual informasi mengenai keberadaan ‘Isa terhadap para ahli Taurat dan orang-orang Romawi. Murid tersebut diyakini bernama Yahudza Iskharyuti atau Yudas Iskariot.

Dan Yudas digambarkan memiliki rencana yang jahat terhadap ‘Isa al-Masih setelah acara jamuan makan malam al-Maidah selesai dengan membocorkan rahasia keberadaan sang Nabi kepada musuh-musuhnya sehingga mereka melakukan penyerbuan terhadap persembunyian ‘Isa al-Masih.

Namun sesuai dengan janji Allah, bahwa rencana yang jahat tidak akan menimpa selain kepada orang yang sudah membuat rencana itu sendiri, begitu pula halnya dengan diri ‘Isa al-Masih, beliau telah diselamatkan Allah dari tragedi penyaliban dengan mengangkatkan wujud ‘Isa menuju keperwujudan orang lain dan menukarkan jasad jasmani ‘Isa dengan Yahudza Iskharyuti yang merupakan otak dari semua rencana jahat itu.

“Dan perkataan mereka: ‘Bahwa kami telah membunuh ‘Isa al-Masih putera Maryam, utusan Allah’, padahal tidaklah mereka membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi disamarkan kepada mereka. Orang-orang yang berselisihan tentangnya selalu dalam keraguan mengenainya. Tiada pengetahuan mereka kecuali mengikuti dugaan, dan tidaklah mereka membunuhnya dengan yakin. Tetapi Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya; karena Allah itu Gagah nan Bijaksana”
(Qs. An-Nisa’ 4:157-158)

Demikianlah kiranya Allah telah menentukan keputusan-Nya untuk memberikan hukuman terhadap orang yang telah merencanakan hal yang keji atas diri Nabi-Nya dengan azab yang belum pernah ada dan terjadi pada seluruh makhluk-makhluk Allah.

Kita lihat, betapa Yahudza alias Yudas telah disiksa diatas kayu salib oleh Allah dengan perantaraan orang-orang Yahudi dan Romawi; kemudian ketersaliban Yudas diatas kayu ini diabadikan Allah untuk generasi selanjutnya, yaitu dengan cara dijadikan-Nya orang-orang Nasrani menciptakan Yudas yang tersalib itu kedalam simbol keagamaan mereka, simbol kesesatan yang diatasnamakan Allah dan ‘Isa yang akan dikembalikan mereka semua itu kedalam neraka sebagai azab yang berkepanjangan.

Sepanjang sejarah kita tidak pernah menyaksikan adanya satu symbol berbentuk manusia yang terhukum dan menderita yang abadi sepanjang sejarah kemanusiaan; satu syimbol kejahatan yang membimbing manusia kejalan syaitan, syimbol yang dipergunakan oleh orang untuk membeli kebenaran dengan kesesatan.

Siapa yang tahu, nun jauh dialam kuburnya, Yudas merintih setiap kali ada orang yang memandangi dirinya dalam salib dan mempergunakan symbol dirinya tersebut didalam menjalankan satu ritual yang salah, yang bertentangan dengan ajaran Allah. Semuanya ini akan menambah panjang penderitaan Yudas sebagai satu azab dari Allah untuknya karena telah berbuat makar terhadap ‘Isa al-Masih.

Kematian Yudas Iskariot sendiri terbukti telah menjadi satu kontroversi tersendiri didalam Bible yang tidak mungkin bisa kita pertemukan :

And he cast down the pieces of silver in the temple, and departed, and went and hanged himself.
(Matthew 27:5)Now this man purchased a field with the reward of iniquity; and falling headlong, he burst asunder in the midst, and all his bowels gushed out.
(The Acts 1:18)

Disatu riwayat disebutkan bahwa Yudas sudah mati karena menggantung diri dan dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Yudas mati karena ia sudah jatuh terjerumus terbelah dua dengan isi perutnya terburai.

Mari kita lihat kembali apa kata ‘Isa al-Masih terhadap sikap Allah kepada orang-orang ingkar akan kenabiannya itu :

“…Dan adalah aku menjadi penjaga atas mereka selama aku ada pada mereka; maka tatkala Engkau mengambil aku, adalah Engkau menjadi pengurus mereka; dan sungguh Engkau menyaksikan segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka itu hamba-hambaMu; dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sungguh Engkaulah Maha Kuasa nan Bijaksana.”
(Qs. al-Maidah 5:117-118)

Disini ‘Isa menyerahkan segala urusan itu kepada kehendak Allah, bahwa selama dirinya masih berada ditengah-tengah umatnya, ditengah-tengah sahabat-sahabatnya, maka ‘Isa sendiri yang akan menjadi pengingat mereka terhadap ajaran Allah, dia sendiri yang akan menegur apabila dia melihat keingkaran mereka namun manakala dirinya sudah wafat atau juga sudah tidak lagi bersama mereka, maka ‘Isa al-Masih lepas tangan terhadap semua tindak-tanduk umatnya.

‘Isa al-Masih mengatakan bahwa bila karena perbuatan umatnya yang salah telah menyebabkan Allah menjadi murka dan menghukum mereka, maka itu adalah hak prerogatif Allah, sebab Dia adalah penguasa dan pencipta seluruh makhluk yang mampu bertindak dan berkehendak sebebas-bebasnya kepada siapapun sebab mereka hanyalah hamba-hamba Allah yang tidak akan bisa menghentikan kehendak Allah.

Kembali kita pada pembahasan seputar pengangkatan dan penyerupaan ‘Isa pada peristiwa penyaliban itu, golongan lain dari Islam telah mengakui bahwa yang dimaksud dengan penyerupaan ‘Isa itu adalah penyerupaan dari mitos penyaliban, artinya bahwa ‘Isa al-Masih adalah benar tokoh yang digantung diatas kayu salib namun pada hakekatnya dia tidak disalibkan sebab ‘Isa tidak mati dalam penyaliban itu.

Keyakinan ini umumnya dipahami oleh golongan Ahmadiyah yang mengakui adanya doktrin kenabian setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw. Salah satu dari dasar akidah pemahaman kaum yang mempercayai ketersaliban Nabi ‘Isa adalah berdasar pada kitab Bible bukan berdasarkan al-Qur’an !

Didalam Bible diceritakan bahwa ‘Isa telah menubuatkan satu persamaan yang akan dialaminya dengan apa yang sudah menimpa Nabi Yunus as.

“For as Jonas was three days and three nights in the whale’s belly; so shall the Son of man be three days and three nights in the heart of the earth”.
(Matthew 12:40)

“Now the LORD had prepared a great fish to swallow up Jonah. And Jonah was in the belly of the fish three days and three nights.”
(Jonah 1:17)

Didalam Matius 12:40 ada tertulis bahwa seperti halnya Nabi Yunus berada 3 hari 3 malam di dalam perut ikan, demikian pula Anak Manusia (yaitu ‘Isa putra Maryam) akan berada tiga hari hari, tiga malam dalam perut bumi. Dan karena Nabi Yunus waktu itu tidak mati didalam perut ikan melainkan hanya sekedar pingsan dan pada waktu dia keluar dia dalam keadaan hidup, maka seharusnya begitu pula yang terjadi terhadap diri ‘Isa al-Masih.

‘Isa diyakini oleh sekelompok orang telah disalibkan dan pingsan pada waktu kejadian penyaliban tersebut dan keluar kembali dari dalam kuburnya dalam keadaan hidup setelah dibantu oleh para sahabatnya yang masih setia.

“Jawabannya kepada mereka : Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal didalam perut tiga hari tiga malam, demikian juga Anak manusia akan tinggal dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.”
(Matius 12:39-40)

Kini timbul pertanyaan: Kapankah ‘Isa al-Masih disalibkan ?
Berdasarkan keyakinan kaum Nasrani, maka peristiwa tersebut terjadi Pada hari Jum’at !
Peristiwa inilah yang menyebabkan timbulnya pesta peringatan yang disebut “Good Friday” (Hari Jumat yang baik). Seluruh umat Nasrani didunia mengadakan hari besar resmi pada hari “Jumat” yang mendahului hari raya Paskah.

Tapi benarkah ‘Isa telah berhasil disalibkan dan pingsan sesuai dengan keyakinan beberapa ulama Islam tersebut ?

Seperti yang kita ketahui dari dalam Bible, ‘Isa al-Masih dikubur sore hari Jumat menjelang matahari terbenam, dan sudah tidak diketemukan lagi mayatnya dalam kubur pada pagi Ahad atau Minggu sebelum matahari terbit.

Dengan demikian jelaslah, mitos ‘Isa tinggal didalam kuburan bukan tiga hari tiga malam sebagaimana yang dinubuatkan, tetapi hanya sehari dua malam ! Mari sama-sama kita lihat pada tabel dibawah ini :

Pekan Hari Raya Paskah

Dalam Kubur

Hari

Malam

(Hari Jum’at)

Dikubur sebelum matahari terbenam

Kosong

Semalam

(Hari Sabtu)

Diduga ia masih ada didalam kuburnya

Sehari

Semalam

(Hari Ahad)

Tidak ditemukan dikuburannya sejak matahari belum terbit

Kosong

Kosong

Jumlah

Sehari

Dua malam

Kita harus ingat, Maria magdalena telah pergi kekuburan ‘Isa putra Maryam menjelang fajar menyingsing pagi hari ahad/Minggu, dan ‘Isa sudah tidak ada lagi dikuburannya.

Ada sebagian pihak yang mengatakan bahwa ‘Isa telah memenuhi nubuatan dari Yunus, jika dia disalib pada hari Rabu dan bukan Jum’at, namun dengan begitu ia tidak akan mendapatkan dalil-dalil yang tepat, sebaliknya dia hanya akan semakin menentang al-Qur’an dan juga Bible.

Selain itu, Nabi Yunus berada dalam perut ikan tiga hari tiga malam dan secara otomatis, baru pada hari ke-empat Nabi Yunus keluar darisana agar 3 hari 3 malam tergenapi. Sedangkan ‘Isa al-Masih diyakini oleh kaum Nasrani telah bangkit pada hari ke-3, ini bertentangan dengan persamaan dari Nabi Yunus.

Dengan ini, semakin nyata bahwa mengatakan ‘Isa al-Masih sudah benar-benar tersalibkan dan mengambil persamaan contoh Nabi Yunus sangat tidak relevan dengan kenyataan yang berlaku dan hanya terjebak didalam pemahaman mereka sendiri.

Telah terbukti sudah, bahwa nubuatan Nabi Yunus didalam Bible adalah Gagal !

Kita harus melihat peristiwa ini secara arif, dan bagi umat Islam, sebenarnya tidak terlalu penting untuk mengambil data-data yang ada pada Bible, kita semua tahu bahwa kitab Bible tidak memiliki keakuratan dan keterjaminan benar kisah-kisahnya, marilah kita sandarkan pondasi utama kita kepada al-Qur’an untuk mengoreksi Bible, bukan sebaliknya, Bible yang mengoreksi al-Qur’an.

Apa yang terjadi atas diri ‘Isa putra Maryam tidak perlu diherankan, selama ini Allah telah melimpahkan Rahmat, Karunia dan Mukjizat kepada beliau, maka apakah sulitnya bagi Allah untuk mengadakan kembali keajaiban-keajaiban ketika peristiwa penyaliban itu ?

Lalu mengenai pengertian ayat yang menjelaskan bahwa telah terjadi pengangkatan dan penyamaran atas diri ‘Isa al-Masih semestinya kita tetap yakin bahwa Nabi ‘Isa telah benar-benar disamarkan dengan seseorang lainnya sehingga menyerupai orang tersebut.

Sekedar lintas baca dan lintas pengetahuan kembali, kita pelajari ulang kisah penangkapan ‘Isa al-Masih, dimana Nabi ‘Isa digambarkan telah dikepung oleh banyak tentara termasuk oleh Judas Iskariot sendiri, dan dalam Matius 26:49 malah dijelaskan bahwa Judas sempat mencium Nabi ‘Isa, namun cerita yang serupa ini tidak kita jumpai dalam riwayat Jahja (Johanes) pasal 18 yang meliputi ayat 1 s.d 12, meskipun mereka mengisahkan kejadian yang sama.

Pada riwayatnya ini, Yohanes malah bertentangan dengan ke-3 riwayat Injil lainnya. Untuk baiknya akan kita mulai saja dari ayat ke-3 sebagai suatu cerita awal penangkapan.

Maka Judas membawa suatu pasukan laskar beserta dengan segala hamba kepala-kepala imam dan orang Parisi, lalu datang kesitu dengan tanglung dan suluh serta senjata. Maka Jesus sedang mengetahui segala perkara yang akan berlaku atasnya, keluarlah serta berkata kepada mereka itu: “Siapakah yang kalian cari ?”

Maka sahut mereka itu kepadanya: ‘Jesus orang Nazaret.’ Maka kata Jesus kepada mereka itu: ‘Akulah dia!’, Maka Judas yang hendak menyerahkan dia, ada berdiri bersama-sama dengan mereka.
(Yohanes 18:3-5)



Kini dia, yang mengkhianatinya, memberi tanda pada mereka dengan mengatakan: “Siapa saja yang nanti saya cium, itulah orangnya, tangkaplah dia !”. Dan dengan begitu ia datang pada Jesus dan mengatakan, “Hail Master !”, lalu menciumnya.”

Maka kata Jesus kepadanya: “Hai sahabat, lakukanlah maksud kedatangan engkau ini.” Kemudian mereka itupun menghampirinya sambil mendatangkan tangan keatasnya lalu menangkapnya.
(Matius 26:49-50)

Saya persilahkan anda sendiri yang mencari perbedaan diantara kisah yang dimuat oleh kedua Injil tersebut.
Dan jika anda mengatakan bahwa keduanya saling melengkapi, maka silahkan juga coba anda cocok-cocokkan kedua kisah diatas itu.

Dimana disatu pihak dikatakan bahwa Judas mencium gurunya dan mengisyaratkan kepada tentara bahwa itulah ‘Isa , maka disisi yang lainnya dikatakan telah terjadi dialog tanya jawab mengenai keberadaan diri ‘Isa itu sendiri, sementara Judas sendiri yang nyata-nyata telah lama bergaul dengan ‘Isa dan berada diantara tentara itu tidak dapat mengenali ‘Isa yang berada dihadapannya dan berkata bahwa dia adalah ‘Isa .

Yang manakah cerita yang harus dipegang dari kedua Injil diatas ?
Apakah Judas sudah sedemikian tolol dan linglungnya hingga dia sendiri tidak dapat mengenali sosok ‘Isa yang hendak ditangkapnya, sehingga justru orang yang akan ditangkap itu harus berulang kali mengatakan bahwa dialah yang mereka cari itu ?

Ataukah harus mempercayai kisah yang termuat dalam Matius yang mengatakan bahwa Judas dapat mengenali ‘Isa dan dengan melakukan penciuman adalah sebagai isyarat kepada tentara bahwa orang itulah yang mereka cari ?

Markus 14:43 hingga 14:46 redaksi ceritanya hampir sama dengan Matius 26:47-50 namun akan tetap saja berbeda dengan cerita yang termuat dalam Yohanes 18:3-8.

Karena itulah, kita tidak bisa terlalu mudah mempercayai apa-apa yang terdapat didalam Bible dan mencoba memparalelkannya dengan kisah yang ada didalam al-Qur’an. Wahai saudara-saudaraku kaum Muslimin dan Muslimah yang memiliki kepandaian dalam hal tafsir dan ilmu, ingatlah sabda Nabi Muhammad Saw dibawah ini :

“Apabila ada ahli kitab berbicara kepadamu, maka janganlah engkau mendustakannya dan janganlah kamu membenarkannya. Tetapi katakanlah : ‘Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kami beriman kepada apa yang diturunkan sebelum kami.’ ; Apabila yang dikatakan itu haq (benar), janganlah kamu mendustakannya. Tetapi apabila itu batil, maka janganlah kamu membenarkan.”
(Riwayat Abu Daud, Turmudzi dan Muslim)

Dalam sabdanya diatas, Rasulullah Muhammad Saw hendak mengingatkan kepada kita agar jangan terlalu mudah untuk membenarkan apa yang sudah dikabarkan oleh kaum Ahli Kitab, baik secara lisan maupun melalui tulisan-tulisan dalam pamflet, selebaran hingga pada kitab yang dianggap suci sekalipun oleh mereka.

Cukuplah kita mengatakan bahwa kita umat Islam percaya kepada seluruh yang diturunkan kepada kita, yaitu berupa wahyu al-Qur’an dan kita juga percaya kepada wahyu-wahyu yang diturunkan sebelum al-Qur’an yang diberikan Allah kepada Nabi dan Rasul-Nya; dan kita tidak memiliki kewajiban untuk mempercayai seluruh isi Kitab Perjanjian Lama maupun Kitab Perjanjian Baru yang diyakini oleh umat Nasrani sekarang ini.

Kita masih tetap akan melanjutkan pembahasan mengenai sosok pribadi ‘Isa al-Masih putra Maryam ini pada artikel
Kontroversi Kisah Penyaliban

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: